PINANGKAMPAI.COM, DURI – Warga RT001/RW003, Dusun Belading, Desa Petani, Kecamatan Bathin Solapan yang wafat dalam posisi tergantung diketahui berinisial AH berusia sekitar 38 tahun. Pria berperawakan kurus dengan kulit berwarna sawo matang itu pertama kali ditemukan sang istri berinisial W, Sabtu (4/7) petang.

Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Mandau Resor Bengkalis, Kompol Arvin Hariyadi, SIK saat dikonfirmasi malam tadi turut membenarkannya.

“Almarhum berinisial AH,” kata Kompol Arvin kepada tim pinangkampai.com secara eksklusif, Sabtu malam.

Senada, Direktur RSUD Mandau, dr. Sri Sadono melalui Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Iwan Ridwan, yang diwakilkan Kepala Seksi Humas dan Pemasaran dr. Rangga pun menegaskan bahwa AH berusia sekitar 38 tahun.

“Usia beliau sekitar 38 tahun,” kata dr. Rangga.

Awalnya, W sangat terkejut melihat AH tampak tergantung di kediamannya. Lelaki malang itu disebut tergantung di bagian rangka atap rumahnya dengan seutas tali yang membelit erat di lehernya.

“Saat itu saya baru tiba di rumah, dan yang saya lihat suami saya sudah tergantung. Ada tali di lehernya. Saat saya pegang, dia sudah tidak merespon. Sudah pergi (wafat, red),” ungkap sesal W menceritakan kejadian yang menggegerkan itu.

W sempat dipertanyakan terkait kondisi AH sebelum ditemukan wafat dalam belitan tali, sang istri pun menjelaskan bahwa hubungan rumah tangganya tidak sedang bermasalah. Secara tegas ia pun menyebut bahwa kepergian sang suami sangat membuatnya merasa kehilangan bukan main.

“Nggak ada masalah kami. Tapi kok dia tega ninggalin saya,” tangis W sesegukan.

Usai ditemukan, W pun langsung berteriak dan berusaha mencari bantuan. Tak lama beberapa warga dan tetangganya berlarian menuju rumah W (TKP). Beberapa warga yang mendapati kejadian itupun geger melihat AH sudah tak lagi bernyawa.

“Tak lama kita dapat kabar, tim pun langsung kita terjunkan ke TKP. Tak lama ambulan pun tiba, jasad AH pun dibawa ke RSUD Mandau untuk dilaksanakannya tindakan medis,” cerita Kapolsek menambahkan.

Setibanya di fasilitas kesehatan (Faskes) tersebut, jasad AH pun langsung dibawa ke Instalasi Peluasaran Jenazah (IPJ) RSUD Mandau untuk menjalankan pemeriksaan luar alias Visum et Repertum. Hal itupun dibenarkan dr. Rangga.

Akan tetapi, penyebab kematian belum diketahui hingga saat ini. dr. Rangga menyebut bahwa pihaknya hanya melaksanakan visum di bagian luar tanpa dilanjutkan dengan tindakan autopsi (otopsi, red). Oleh karenanya, dugaan mendalam terkait wafatnya AH masih belum bisa dipastikan secara lebih detail.

“Tindakan yang dilaksanakan sesuai arahan dan terukur. Terhadap jenazah AH telah dilaksanakan visum,” sebut dr. Rangga.

Kompol Arvin kembali menambahkan bahwa tindakan visum telah dilaksanakan. Hal itu diungkapkannya sekira pukul 00.45 WIB, memasuki hari Minggu (5/7).

“Visum sudah dilaksanakan,” singkatnya.

Meski pemeriksaan dari luar telah dilakukan, namun motif dalam kejadian itu belum mendapat kejelasan lebih pasti. Hal itupun belum diutarakan jajaran kepolisian di Mapolsek Mandau, lewat keterangan resminya kepada awak media.

Hingga kini, tim pinangkampai.com masih menanti keterangan resmi dari Kapolsek Mandau terkait motif tewasnya AH dalam belitan tegas seutas tali yang merenggut nyawa sang pria malang itu.

Sebelumnya, usai berkoordinasi dengan Kapolsek Mandau, tim pinangkampai.com pun sempat menanyakan kejelasan informasi tersebut ke Kepala Unit (Kanit) Reskrim Polsek Mandau, IPTU Firman Fadhila terkait kejadian itu.

Senada dengan jawaban sang Komandan, IPTU Firman Fadhila pun membenarkan kejadian itu.

“Benar bang, ada (kejadian diduga gantung diri). Untuk keterangan lebih lengkap, silahkan langsung ke Kapolsek ya,” kata IPTU Firman Fadhila membenarkan konfirmasi tim malam tadi.