PINANGKAMPAI.COM, DURI – Beberapa saat terakhir, wilayah Duri yang membentang di dua kecamatan yakni Mandau dan Bathin Solapan kerap dijumpai beberapa proyek gagah.

Tak lama usai dibangun, proyek yang ada malah amblas, runtuh, bahkan remuk.

Apakah dalam rangkaian pembangunannya sudah sesuai dengan standar dan spesifikasi yang dianjurkan dalam membuat fasilitas umum layak pakai? Lantas apakah pihak pengawas sadar akan hal ini? Sebagaimana di ketahui, ruas jalan tol lintas Dumai Pekanbaru di Kilometer 87 tampak amblas. Bagian tepi hingga ke tengah bidang jalan yang baru selesai dikerjakan itu malah rusak parah sebelum diresmikan beberapa saat lalu.

Bidang tol yang remuk tampak terhempas berkeping ke tepian jalan yang menjurang, menuju jalur irigasi yang berada di bawah ruas tol sedalam 10 meter lebih dari posisi ambruknya ruas jalan.

Tak cukup itu saja, tim pinangkampai.com juga menemukan Turap atau dinding beton penangkal longsor yang ambruk di jalan Siak, Desa Petani, Kecamatan Bathin Solapan, Duri, Sabtu (27/6) pagi lalu.

Ambruknya turap ikut menggerus permukaan tanah yang awalnya ditahan bentangan dinding betonisasi itu. Tak ayal akhirnya tanah di sekitar perlahan longsor, bila dibiarkan berlarut kerusakan itu bahkan terus merembet dan berpotensi menggerus ruas jalan yang diketahui juga baru selesai dikerjakan berbarengan dengan turap pada tahun Anggaran Pembelanjaan Biaya Daerah (APBD) 2019 lalu.

“Untuk turap dan jalan lingkar saja sekitar miliaran rupiah budget-nya, tapi sayang belum lama beroperasi sudah remuk,” kata Suhardi, warga sekitar ambruknya turap.

Dikonfirmasi lebih dalam, Ketua DPRD Kabupaten Bengkalis, Khairul Umam mengatakan bahwa pihaknya bakal terjun langsung ke lokasi guna meninjau langsung kerusakan turap itu.

“Nanti kita cek, kerusakan itu disebabkan bencana alam atau karena human error,” kata sang Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bengkalis itu.

Senada, Camat Bathin Solapan Wahyuddin pun mengaku bakal melaksanakan survey lokasi ke titik jalan yang turapnya mengalami kerusakan parah itu.

“Nanti kita lihat dahulu baru bisa kasih statement ya,” singkatnya.

Sementara kritik pedas terlontar dari Kepala Desa (Kades) Petani, Rasikun. Ia mengatakan bahwa pengerjaan turap di wilayah tugasnya itu tak pernah dikoordinasikan sebelumnya. Ia pun kaget mendengar adanya fasilitas umum penahan longsor alias turap yang ambruk di wilayahnya, terkait hal itu ia pun bergegas dan segera menindak lanjuti.

“(Pembangunan turap) itu tak pernah dikoordinasikan dengan perangkat desa, jelas kami pun heran. Nanti coba kita lihat dulu ke lapangan,” tegas Rasikun menanggapi proyek gagal di wilayah tugasnya itu.

Meski para pejabat daerah Desa, Kecamatan dan Kabupaten telah bereaksi, Suhardi mewakilinaspirasi warga sekitar tetap mempertanyakan standarisasi pengerjaan dan material turap tersebut.

“Masa iya belum lama sudah ambruk? Apa sudah sesuai standar material dan tata pengerjaannya? Apa sudah disesuaikan ketahanan turap dengan medan tanah yang ditahan dan kemiringan atau curamnya lahan? Apakah pengawas ada saat pemvangunan turap ini? Tentu semua harus dirunut lagi supaya diketahui apa penyebabnya,” pungkas Suhardi menyayangkan peristiwa itu.