PINANGKAMPAI.COM, DURI – Beberapa waktu lalu, teknologi modifikasi cuaca (TMC) dilaksanakan di wilayah Kabupaten Bengkalis, Riau.

TMC dilakukan dengan cara menyemai atau menabur ratusan kilogram garam ke permukaan awan yang terdapat di langit, tepat di teritorial Kabupaten berjuluk Negeri Junjungan ini.

Garam yang disemai diharap mampu mempercepat pertumbuhan awan konvektif sebagai media turunnya hujan. Tak lama, rintik gerimis pun mendera.

Dilaporkan dari Kecamatan Mandau, Duri, Kabupaten Bengkalis, guyuran gerimis tipis tampak mendera sekitar pukul 19.10 WIB, Jumat (12/3).

Namun sayang, guyuran gerimis dengan intensitas yang sangat kecil itu usai sekira pukul 19.30 WIB. Tampaknya, TMC yang telah dilaksanakan belum cukup mampu menambah debit dan durasi hujan.

“Gerimisnya sekilas, hanya membasahi jalan saja. Itu pun tidak merata, bagaimana mungkin ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) bisa ditekan hanya dengan gerimis tipis begini?,” kata Febby (31) salah seorang warga Kelurahan Babussalam, Mandau, Duri.

Benar saja, gerimis bak numpang lewat belaka di wilayah berjuluk Kota Minyak itu. Tak lama durasinya, gerimis dianggap warga hanya cukup untuk menangkal debu semata.

“Gerimis begini sih hanya untuk menghilangkan debu saja, kalau api di lahan gambut tak bisa padam kalau kondisinya begini,” ucap Maya (26) warga lainnya.

Ia menyebut, giat TMC harus lebih gencar dilaksanakan untuk semaksimal mungkin menambah laju pertumbuhan awan konvektif dengan curah hujan yang tinggi.

“Riau, terkhusus Bengkalis ini butuh hujan yang lebih lebat dan sedikit lebih panjang durasinya. Bila tidak demikian, potensi kebakaran masih cukup besar,” ucap Maya meyakinkan.

Hingga berita ini diterbitkan, gerimis tipis tak lagi mengguyur. Jalanan yang sempat lembab didera air dari langit, perlahan mengering.

“Wilayah kita butuh lebih banyak hujan, semoga hujan segera turun lebat. Jadi alam bisa kembali sejuk dan ancaman Karhutla bisa ditekan habis,” pungkasnya.