PINANGKAMPAI.COM, BENGKALIS – Kapolres Bengkalis, AKBP. Hendra Gunawan, SIK., MT melalui Kasat Reskrim AKP. Meki Wahyudi, SIK., SH dal seluruh jajarannya berhasil mengungkap dua dugaan kasus pembunuhan.

Kedua kasus itu, yakni tindak kekerasan yang berujung maut terhadap CM (2) anak dibawah umur yang diduga dilakukan oleh Ibu kandung (YI) bersama selingkuhannya (RH).

Kasus ini terungkap atas kejelian dokter di IGD RSUD Bengkalis, Minggu (25/4). Kala itu, sekira pukul 03.47 WIB, YI bersama RH (pria dewasa) bergegas menuju fasilitas kesehatan itu untuk mengantar putrinya (CM) berobat.

Lantaran mengalami sesak napas, CM langsung dilarikan keduanya kesana. Tiba di RSUD Bengkalis, tenaga medis melihat adanya kejanggalan di tubuh bayi malang itu berupa memar atau lebam bak bekas tindak kekerasan.

“Saat memeriksan korban, dokter bertanya kepada YI dan RH. Kenapa banyak luka dan lebam di tubuh CM? Sontak RH menjawab bahwa CM habis terjatuh di rumahnya,” terang AKP. Meki, Sabtu (1/5).

Merasa semakin janggal melihat keadaan bayi dan jawaban pria itu, dokter spesialis anak disana terus melontarkan pertanyaan tajam. “Kenapa di kedua sisi leher anak ini juga lebam? Tanya dokter. Lalu RH menegur dengan mengatakan: Ibu (dokter) jangan menuduh saya menciderai (menganiaya) anak ini,” papar dia menirukan jawaban dari masing-masing terduga pelaku pembunuhan keji ini.

Tersangka YI dan RH

Tepat di hari yang sama, sekira pukul 12.20 WIB, korban dinyatakan meninggal dunia di RSUD Bengkalis. Atas kejanggalan yang terdapat pada tubuh sang anak hingga akhirnya wafat, pihak RSUD langsung berkoordinasi dengan Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Bengkalis.

“Melihat kondisi anak yang sangat memprihatinkan dan akhirnya meninggal dunia, jajaran itu kemudian membuat laporan ke Polres Bengkalis,” ucapnya.

Berdasarkan laporan itu, YI dan RH pun diamankan guna kepentingan oenyelidikan lebih lanjut. Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, masing-masing pelaku penyiksaan terhadap CM ini bakal dijerat dengan ketentuan Pasal Pasal 80 ayat (3) dan (4), juncto Pasal 76C Undang – Undang RI nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan PemerintahPengganti Undang – Undang nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang – Undang RI nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak menjadi Undang – Undang.  

“Sebagaimana tertuang dalam Pasal 76C ayat (3) dijelaskan, bila terjadi tindak kekerasan yang mengakibatkan anak mati (meninggal dunia) dipidana 15 tahun penjara,” tutupnya menjelaskan kasus pertama.

Pengungkapan Kasus Kedua:

AKP. Meki melanjutkan, pihaknya turut mengungkap dugaan pembunuhan terhadap seorang pria berinisial BG di Desa Semunai, Kecamatan Pinggir beberapa waktu lalu.

Aksi sadis ini diduga dilakukan oleh rekannya sendiri berinisial F. Tak tinggal diam, petugas pun mengambil tindakan usai masuknya laporan polisi bernomor: LP/57/IV/SPKT/RIAU/BKS/SEK-PGR, pada tanggal 06 April lalu.

Merespon hal itu, Kasat Reskrim Polres Bengkalis AKP. Meki Wahyudi, SIK., SH langsung memerintahkan Kanit Pidum Polres Bengkalis IPDA. Fauzi Surya Chandra. St.R.K beserta tim Opsnal BKO 125 untuk melakukan penyidikan.

Tak lama, tepatnya pada Jumatt (09/04) sekira pukul 11.00 WIB, Kanit Pidum dan BKO 125 mendapatkan informasi diduga tersangka F tengah berada dirumah keluarganya, di Jambi. Tim segera menuju Jambi, tak berselang lama F berhasil diamankan di sebidang kebun karet yang terletak didaerah Kecamatan Muaro Sebo Ilir, Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi.

“Saat dilakukan interogasi terhadap tersangka, F mengaku telah membunuh BG pada hari Kamis (01/04) sekira pukul 20.30. F mengatakan, ia nekat menghabisi nyawa BG lantaran sakit hati atas hinaan korban terhadap anak dan istrinya,” tutur AKP. Meki.

Tersangka F

Melancarkan aksi brutalnya, F mengaku menghabisi nyawa korban dengan cara menendang kemaluan BG, lalu memukul bagian dada korban sebanyak 3 kali. Setelah korban tak berdaya, kemudian tersangka kembali memukul korban dibagian rahang sebanyak 1 kali menggunakan besi, hingga korban meregang nyawa.

Selanjutnya, tersangka mengambil seutas tali guna mengikat kaki korban dan segera menyeret korban keluar dari pondok eksekusi menuju sebuah kolam. Kesadisan itu menggila dengan ditenggelamkannya jasad BG ke kolam yang ada disana.

Tak puas, F juga mengaku membawa lari barang milik korban berupa satu unit sepeda motor merek Honda Beat warna putih biru dan dipakainya untuk melarikan diri ke Jambi.

“Sesampainya di daerah Merlung, tersangka menjual sepeda motor tersebut seharga Rp2,5 juta. Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, F kita tahan guna kepentingan penyidikan,” pungkasnya.