PINANGKAMPAI.COM, DURI – Kobaran si jago merah terpantau menghanguskan lahan di beberapa titik yang ada di Kecamatan Mandau dan Bathin Solapan, Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Akibat kebakaran itu, stabilitas udara pagi ini di wilayah Kecamatan Mandau tampak tercemar polusi berupa partikel kecil dan asap yang mengudara.

Diduga, asap dan material sisa pasca kebakaran hutan dan lahan (Karlahut) di beberapa titik tersebut menyebabkan konsentrasi asap di udara meningkat. Minimnya pertumbuhan awan konvektif dan teriknya matahari dalam beberapa waktu terakhir turut menyumbang potensi titik api.

Kapolsek Mandau Resor Bengkalis, Kompol Arvin Hariyadi, SIK saat dikonfirmasi tim pinangkampai.com, membenarkan keadaan itu. Asap yang mencemari udara pagi ini diduganya berasal dari karhutla yang terjadi.

“Memang semalam (Senin|10/8, red) ada kebakaran di beberapa titik,” kata Kompol Arvin, Selasa (11/8) pagi.

Ia menyebutkan, lokasi yang terdapat titik api meliputi lahan gambut milik PT Chevron Pacific Indonesia di Desa Harapan Baru, Kecamatan Mandau dan sebidang kebun karet yang terbakar di jalan Siak, Desa Petani, Kecamatan Bathin Solapan, Duri.

Di Desa Harapan Baru, sekurangnya 4 hektare lahan gambut terbakar. Sementara di Desa Petani sekitar dua hektar kebun karet juga terbakar.

Sumbangsih asap dari kebakaran lahan-lahan tersebut disinyalir meningkatkan konsentrasi asap dan polutan di udara, hingga akhirnya menjadikan udara di Duri tampak berasap dan berbau hangus.

“Mungkin itu asap hasil Karhutla, semoga hujan segera turun,” harap Kapolsek.

Harapan itu terlontar mengingat usaha yang dilakukan sudah sangat maksimal dalam memadamkan api. Pengerahan personel gabungan dan alat pemadam bahkan diterjunkan, tak tanggung pula dua unit helikopter berwadah air di bawahnya ikut beraksi dalam melakukan water boombing.

“Benar, semalam ada water boombing juga di Desa Harapan Baru,” ungkapnya.

Lagi-lagi, Kompol Arvin berharap hujan segera turun dengan intensitas lebat dan durasi yang panjang di daerah-daerah lawan kebakaran, khususnya semak belukar dan lahan gambut.

“Semoga hujan segera turun, jadi udara bisa bersih kembali dan lahan gambut bisa basah maksimal. Kalau hujan tak kunjung turun beberapa waktu kedepan, kondisinya mungkin bisa lebih dari saat ini. Disamping upaya pemadaman yang kita maksimalkan, kita tetap berdoa seraya berharap agar hujan segera turun,” pungkasnya.