PINANGKAMPAI.COM, RIAU – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dalam beberapa hari ini melanda Riau. Data terbaru dari kepolisian, sejak Januari 2021 hingga saat ini luas hutan dan lahan yang terbakar di Riau mencapai 248,95 hektar (Ha).

Kebakaran Itu tersebar di delapan Kabupaten/Kota, namun kebakaran paling luas terdapat di Kabupaten Bengkalis.

“Karhutla terjadi di delapan daerah di Riau dengan luas lahan terbakar bervariasi. Ada yang 4  hektare dan ada juga 82 hektare yang terbakar. Total lahan yang terbakar mencapai 248,95 hektar  sejak awal Januari 2021,” kata Kepala BPBD Riau, Edwar Sanger Selasa (23/2).

Berdasarkan hasil pendataan, lahan terbakar paling luas berada di Kabupaten Bengkalis. Di sana, luasan lahan yang digagahi api mencapai 82 hektar.

Selanjutnya, disusul dari Kabupaten Siak sebanyak 45 hektar, Kota Dumai 40 hektar dan Indragiri Hilir seluas 40 hektar.

“Di Kabupaten Pelalawan, luas yang terbakar 26 hektar. Kabupaten Kepulauan Meranti 4 hektar, Indragiri Hulu 5 hektar dan Rokan Hilir 5 hektar,” katanya.

Sebagai upaya pemadaman itu, tim gabungan dari TNI, Polri, BPBD dan Manggala Agni dibantu RPK dari perusahaan di sekitar lokasi kebakaran pun saling berjibaku mengendalikan api.

Sementara itu, Kapolda Riau Irjen Pol. Agung Setya Imam Effendi mengatakan, mitigasi dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan harus dimaksimalkan. Hal itupun disebutnya telah dimintakan oleh Presiden RI, Joko Widodo.

“Bapak Presiden telah memberikan pengarahan dan penekanan kepada kita semua untuk memprioritaskan upaya pencegahan dan tidak terlambat dalam menangani titik api,” kata Agung.

Jendral bintang dua ini menjelaskan, presiden meminta manajemen pelaporan titik api agar terkordinasi semua pihak. Caranya, dengan memperbaharui kondisi harian dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi.

Untuk pengantisipasi Karhutla, lanjutnya, penugasan personel harus melibatkan para Bhabinkamtibmas, Babinsa dan masyarakat peduli api (MPA). Pwnugasan diwajibkan untuk mengedukasi masyarakat dalam mencegah terjadinya kebakaran.

“Karena penyebab utama Karhutla di riau ini adalah faktor manusia dengan motif ekonomi. Jadi para perasonel kita libatkan untuk menjangkau masyarakat dan memberi pemahaman untuk tidak membuka lahan dengan cara membakarnya,” ucap dia.

“Penataan ekosistem gambut pun diminta agar tetap dilakukan dengan menjaga tinggi permukaan air gambut. Arahan presiden, jangan biarkan api membesar, jangan terlambat memadamkan dan agar direspon dengan cepat,” jelasnya.

Dia mengemukakan, bahwa operasi pemadaman dari udara yakni dengan penggunaan water boombing (bom air) dilakukan apabila api sudah besar dan tidak terkendali.

Hal itu diungkapkan, mengingat operasional water boombing dengan menggunakan Helikopter memerlukan biaya besar.

“Kalau sudah tak terkendali, barulah water boombing dikerahkan,” serunya.

“Yang jelas, saat ini penegakan hukum bagi para pelaku karhutla harus dilakukan tanpa kompromi. Kita akan langsung tancap gas dengan berkoordinasi dan bersinergi dengan semua pihak dan lebih memaksimalkan lagi penggunaan aplikasi Dashboard Lancang Kuning,” tukasnya.