PINANGKAMPAI.COM, DURI – Turap atau dinding beton penyanggah tanah yang terletak di jalan Siak, Desa Petani, Kecamatan Bathin Solapan tampak roboh, Sabtu (27/6) siang.

Remukan dinding beton dengan panjang lebih dari 20 meter itu tampak roboh ke lereng tanah yang lebih curam. Di bagian tengah, dinding panjang itu tampak patah. Tragisnya, di bidang beton yang patah tidak sama sekali ditemukan besi sebagai tulang penguat antar sambungan tembok.

Suhardi, warga sekitar memperkuat hasil pantauan tim pinangkampai.com di lapangan. Ia mengatakan bahwa bangunan fisik penyanggah tanah dari potensi tanah longsor itu tampak tidak dilengkapi tulang besi di bagian tengah beton. Tak salah bila akhirnya turap remuk dan jebol tergerus longsoran tanah, akibat tingginya curah hujan beberapa saat lalu.

“Dinding beton itu tak ada besi di bagian tengahnya. Istilahnya tak ada besi penyambung antar blok dinding, jadi wajar saja sangat rawan jebol,” kata Suhardi, Sabtu siang.

Ia mengatakan rangkaian besi hanya tampak di bagian bawah sekitar pondasi, keberadaan rangka itu pun dinilai tak mampu menahan bobot keseluruhan beton penyanggah. Sementara di bagian atas turap, besi sambungan antar blok atau tiang beton penyanggah nihil.

“Jadi tidak kuat ikatan antar beton itu, wajar lah langsung roboh. Macam proyek asal jadi, kalau sudah begini kan sayang anggarannya. Jelas ini anggaran dari daerah kan? Tak mungkin ini biaya pribadi dalam pembuatannya. Bagaimana pertanggungjawaban kontraktornya?” cetusnya.

Sebagaimana diketahui, turap itu baru saja dirampungkan pengerjaannya belum lama ini. Biaya pengadaan dan pengerjaannya pun disebut berbarengan dengan proyek pengerjaan jalan lingkar dan diperkirakan menelan anggaran hingga miliaran rupiah.

Sayang, fasilitas penahan longsor di bagian tepi jalan itu kini remuk tak beraturan. Selain turap, tanah di sekitar pun tampak tergerus dan retak dengan kedalaman bervariasi.

Keberadaan dinding penahan tanah itu seakan tak berfungsi, karena tanah tetap saja amblas dan menggerus turap gagah nan rapuh tanpa tulang besi penguat di bagian dalam betonnya.

Atas robohnya dinding penyanggah tanah itu, ruas jalan yang berada tak jauh dari lokasi (TKP) pun sangat rawan kembali tergerus longsoran tanah.

Bila dibiarkan berlarut, ruas jalan itu sangat berpotensi menimbulkan kerusakan susulan bahkan putusnya akses jalan bagi warga sekitar. Beredar kabar, pengerjaan bidang jalan dan penyanggah tanah itu dikerjakan oleh PT. Sumber Arta Reksa Mulia dalam masa anggaran APBD tahun 2019 lalu.

Dikonfirmasi awak media, salah seorang manajemen perusahaan sebagai mitra PUPR Kabupaten Bengkalis yang mengerjakan turap itu membenarkan kondisi fisik beton penyanggah yang remuk.

Ia pun mengaku kerusakan tersebut bakal segera diperbaiki dalam waktu dekat.

“Benar, itu sudah kita bahas untuk secepatnya diperbaiki,” kata penanggungjawab perusahaan pemegang proyek fisik yang hancur itu.

Meski demikian, kerusakan itu tetap dianggap masyarakat sebagai pekerjaan yang sia-sia dan terkesan ‘buang-buang anggaran’. Suhardi pun meminta pihak terkait segera mengusut proyek tersebut, untuk mengetahui standar pengerjaan beton penyanggah yang roboh itu.

“Suatu proyek fisik itu kan ada standarnya. Nah, untuk turap ini sudah sesuai standar atau belum? Kan bisa diusut itu. Bila perlu diselesaikan secepat mungkin, kalau dibiarkan bisa bahaya dan berdampak kerusakan sampai ke bidang jalan nantinya. Kami sangat berharap pihak terkait segera melakukan perbaikan, sekalian proyek gagal ini diusut tuntas,” imbuhnya.

Menanggapi kerusakan itu, Ketua DPRD Kabupaten Bengkalis, Khairul Umam sontak kaget mendengar kabar yang disiarkan tim pinangkampai.com. Ia pun mengaku bahwa pihaknya bakal segera turun ke lokasi untuk melihat langsung kondisi fisik turap yang mengalami kerusakan parah itu.

“Nanti kita sidak (Inspeksi mendadak) dulu, kerusakan karena bencana alam atau karena human error. Nanti kita pastikan langsung di lapangan, apa yang menyebabkan kerusakan,” kata Khairul Umam yang dikonfirmasi awak media, Sabtu (27/6) siang lalu.

Camat Bathin Solapan, Wahyuddin yang dikonfirmasi pagi ini pun mengaku baru mengetahui kabar itu dari konfirmasi awak media, Minggu (28/6).

Wahyuddin bahkan mempertanyakan kapan turap itu ambruk dan tergerus ke bidang curam di lokasi itu.

“Itu kapan kejadiannya? Nanti coba saya cek kesana. Saya lihat dulu, baru bisa kasih tanggapan,” singkatnya.

Kritik keras pun datang dari Kepala Desa Petani, Rasikun. Ia mengatakan bahwa pengerjaan proyek tersebut tak pernah dikoordinasikan sebelumnya oleh pihak terkait ke jajarannya di kantor Desa Petani.

“Saya dengar itu anggaran APBD, saya tahu siapa pemborongnya. Sejak awal pembangunan (turap) memang tak ada koordinasi ke kantor desa. Kami harap peristiwa ini bisa secepat mungkin diatasi,” sambung Rasikun.

Hingga pagi ini, kerusakan turap di pinggiran jalan itu masih terpantau dan belum diperbaiki oleh perusahaan pemenang proyek yang mengerjakan dinding anti longsor itu. Warga sekitar pun berharap penuh agar bentangan beton penyanggah itu dapat seseggera mungkin diperbaiki.

“Jangan dilama-lamakan, langsung perbaiki lah,” pungkas Suhardi.